x

Persoalan Gajah di Masuk ke-Pemukiman Warga belum Teratasi dengan Baik di Lampung Timur

waktu baca 3 menit
Senin, 5 Jan 2026 14:36 135 Resolusi

ResolusiTVnews | Lampung Timur – Konflik antara gajah Sumatera dan manusia di sekitar kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK) kembali mencuat ke ruang publik. Persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun ini dinilai belum ditangani secara menyeluruh, sehingga terus memunculkan korban luka hingga kehilangan nyawa dalam setiap upaya pengamanan wilayah pertanian dan permukiman warga.

Berdasarkan rangkuman pemberitaan MediaLintas Timur, konflik yang terjadi berulang kali, menunjukkan lemahnya kebijakan jangka panjang dalam pengelolaan kawasan penyangga TNWK. Penanganan yang dilakukan selama ini masih didominasi langkah-langkah reaktif di lapangan, tanpa solusi struktural yang mampu mencegah gajah keluar dari habitatnya.

Example 300×600
Seorang pegawai Taman Nasional Way Kambas berinisial S, yang telah mengabdi puluhan tahun, menilai konflik gajah dan manusia seolah dibiarkan berlarut. Menurutnya, solusi permanen seharusnya sudah menjadi prioritas sejak lama, mengingat konflik ini telah berlangsung sejak era 1980-an.

“Sudah hampir setengah abad konflik ini terjadi. Seharusnya ada solusi permanen, misalnya pembangunan pagar tembok yang kokoh agar gajah tidak keluar dari kawasan taman nasional. Pembangunan bisa dilakukan bertahap,” ungkapnya melalui pesan singkat.

Ia menambahkan, anggaran besar yang setiap tahun dialokasikan untuk kegiatan penghalauan gajah seharusnya dapat dialihkan ke pembangunan infrastruktur pengaman jangka panjang.

Menurutnya, pendanaan bisa dilakukan melalui kolaborasi pemerintah dengan lembaga non-pemerintah yang bergerak di bidang konservasi lingkungan.
“Setiap tahun anggaran penghalauan cukup besar. Kalau sebagian dialihkan untuk membangun pagar, meskipun hanya satu kilometer, dampaknya akan jauh lebih terasa,” tambahnya.

Ia juga menegaskan bahwa konflik berkepanjangan ini telah menimbulkan kelelahan psikologis, baik bagi masyarakat maupun petugas di lapangan. Ia mempertanyakan sampai kapan konflik tersebut akan terus diwariskan ke generasi berikutnya.

Sementara itu, Aktivis Lingkungan dari Warung Konservasi (WAKO), Muklasin, turut mengkritisi pola penanganan konflik gajah liar yang diterapkan Balai TNWK. Ia menilai metode penghalauan langsung menggunakan bunyi-bunyian, petasan, dan kembang api perlu dievaluasi secara serius.

Menurutnya, berbagai kejadian di Lampung Timur membuktikan bahwa cara-cara tersebut justru berisiko tinggi dan membahayakan keselamatan petani serta petugas. Beberapa kasus bahkan berujung pada korban luka dan meninggal dunia.

“Belajar dari kejadian sebelumnya, penghalauan langsung gajah liar sangat berbahaya. Sudah ada korban jiwa, ini seharusnya menjadi peringatan serius bagi semua pihak,” ujar Muklasin.

Sebagai alternatif, WAKO mendorong TNWK untuk mempertimbangkan metode ramah lingkungan yang diterapkan di sejumlah negara Afrika, seperti pemanfaatan lebah madu sebagai benteng alami penghalau gajah.

Di Kenya, masyarakat petani memasang sarang lebah madu di sepanjang batas hutan dan lahan pertanian. Ketika gajah mendekat, lebah akan bereaksi dan menyengat, sehingga gajah memilih menjauh dari area tersebut.

Menanggapi hal tersebut, pihak TNWK melalui Humas Ririn menyampaikan bahwa metode lebah madu sebenarnya pernah dicoba bersama mitra konservasi WCS sekitar tahun 2005 hingga 2010, meskipun hasilnya dinilai belum efektif.

“Metode lebah memang pernah dilakukan, namun saat itu kurang efektif. Meski begitu, masukan ini tetap akan kami sampaikan kepada pengelola dan tidak menutup kemungkinan untuk dicoba kembali,” ujarnya.

Hingga kini, konflik gajah dan manusia di TNWK mencerminkan belum optimalnya peran pemerintah dalam menghadirkan kebijakan terpadu. Pemerintah pusat melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten, dinilai perlu mengambil langkah lebih berani dan struktural agar konflik tidak terus berulang dan menelan korban di masa mendatang.(**)

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x